Banyak pengamat bilang industri properti cukup menjanjikan sebagai media investasi. Ia tidak saja menguntungkan bagi si pengembang, tetapi juga bisa memberi keuntungan bagi pembelinya. Salah satu proyek properti yang bisa memberi keuntungan itu adalah Kondotel. Apa yang dimaksud dengan kondotel ? Lalu keuntungan apa saja yang ia berikan ?
Bisa dibilang properti merupakan industri yang paling dinamis dan turut menentukan maju mundurnya roda perekonomian suatu negara. Selain varian produk properti yang amat beragam, keuntungan yang bisa diraup dari sektor ini sangat menggiurkan. Maka tidak heran bila kemudian banyak pengembang berburu tanah untuk dikembangkan sebagai proyek properti. Demikian juga, masyarakat sudah berpikir maju tidak lagi menempatkan dananya di perbankaan, tetapi juga dimainkan atau diinvestasi pada ranah properti.
Selain properti komersial dan perumahan, sub-sektor properti lain yang menawarkan banyak keuntungan tetapi masih jarang dilirik masyarakat atau investor, adalah produk properti kondotel. Secara garis besar, pengertian kondotel merupakan singkatan dari kondominium hotel. Dimana sebuah kondominium atau apartemen yang dikelola layaknya sebuah hotel.
Investasi di kondotel jelas berbeda dengan berinvestasi di apartemen. Bila di apartemen kita bisa membeli, lalu disewakan secara perbulan atau pertahun, dan biasanya dikelola sendiri oleh pemilik unit apartemen. Sementara di kondotel, investor menyerahkan pengelolaan unit kondominiumnya pada manajemen properti yang berpengalaman dan memiliki jaringan yang kuat di level internasional. Atau dalam bahasa lainnya, unit kondominium atau apartemen yang telah dibeli, akan dikelola oleh sebuah manajemen sebagai hotel selama waktu tertentu (10-20 tahun). Anda sebagai pemilik atau investor menerima pendapatan sewa sesuai keuntungan kondotel dalam kurun waktu tersebut.
Di Indonesia, istilah kondotel ini baru dikenal dalam waktu 5 tahun terakhir. Kali pertama ada, kondotel dibangun di Pulau Dewata, Bali. Pada mulanya hotel berbentuk vila. Setelah berhasil di Bali, kemudian ide ini dibawa ke Jakarta. Kalau di Bali usernya itu mayoritas wisatawan, di Jakarta kondotel banyak digunakan oleh para pebisnis.
Menurut Wakil Direktur Jones Lang LaSalle Indonesia, Djodi Trisusanto, peluang investasi di sekytor kondotel masih terbuka dan market share-nya masih kecil. “Di Bali jika dibandingkan dengan jumlah proyek hotel yang sedang dan akan dibangun, market share kondotel bisa lebih dari 90%. Namun jika dibandingkan dengan total unit kamar yang ada, market share kondotel sangat kecil, kurang dari 5%. Ini disebabkan oleh perangkat hukum yang belum terlalu siap dan kekawatiran akan tertib administrasi dan peraturan dalam pengelolaan kondotel.
Seiring meningkatnya pasok kondominium di Jakarta, saat ini ada beberapa kondotel dibangun di lokasi-lokasi strategis seperti di kawasan Segitiga Emas di Jakarta. Kondotel tersebut antara lain Oakwood Premier Cozmo di Mega Kuningan, Aston Veranda Slipi, Aston Rasuna dan Mayflower Apartment, Aston Marina Ancol serta Aston City Loft Gajah Mada.
Namun untuk di Jakarta, Djodi Trisusanto menandaskan bahwa kondotel belum terlalu populer karena daya tariknya sebagai produk investasi belum terlalu cocok. Tercatat hanya sekitar 3 atau 4 proyek apartemen dengan struktur kondotel di Jakarta.
Tags: Aston City Loft Gajah Mada, Aston Marina Ancol, Aston Rasuna, Aston Veranda Slipi, Condominium Hotel, Condotel, Djodi Trisusanto, Jones Lang LaSalle Indonesia, Kondominium Hotel, Kondotel, Mayflower Apartment, Oakwood Premier Cozmo
Kenapa kurang populer ? mungkin karena harganya yang lebih tinggi ?