
Mengawali episode tahun ini, kita akan mengulas tren properti di tahun 2008, baik itu di sektor perumahan maupun apartment. Pemirsa, tahun lalu design interior maupun eksterior hunian cenderung menerapkan konsep minimalis, dengan design simple dan didominasi oleh warna-warna cerah. Apakah di tahun 2008 ini tren tersebut masih tetap berlanjut ? Atau bakal terjadi pergeseran dengan hadirnya tampilan yang baru sama sekali ?
Dalam setiap pergantian tahun hampir semua orang membicarakan tren apa yang bakal menonjol pada tahun mendatang. Tidak terkecuali di dunia properti. Design rumah baik itu interior maupun eksterior, diakui oleh para pengembang properti, mempunyai peranan vital dalam menentukan laku tidaknya sebuah hunian. Karena itu seiring dengan pergantian tahun, para pengembang berlomba-lomba menciptakan inovasi dan terobosan dalam hal design rumah.
Berdasarkan survey REALESTAT ke sejumlah pengembang, tren hunian di tahun 2008 agaknya masih belum beranjak jauh dari tren di tahun sebelumnya. Dengan kata lain, design rumah simplicity atau modern minimalis dengan ukuran rumah kecil dan sedang masih bakal mendominasi hampir semua perumahan di tanah air. Sebut saja di BSD City. Menurut Dhony Rahajoe, GM Corporate Communications BSD City, berdasarkan riset selera pasar yang mereka lakukan, design rumah model modern minimalis masih tetap dominan di tahun 2008, meski rumah model etnik dan neo-klasik masih ada peminatnya.
Gaya design interior yang simple dan ringkas ini digemari masyarakat perkotaan, khususnya dari kalangan pasangan muda yang bekerja, mapan, dan berpendidikan. Jopy Rusli, Director Lippo Group, juga melihat di tahun 2008 tren design rumah yang simple masih begitu kuat. Apalagi didukung dengan elemen alam seperti bebatuan marmer dengan warna-warna yang natural pula.
Konsep desain “sederhana itu indah” sebenarnya tidak sama sekali baru. Muncul pertama kali pada era modernisme 1950-an. Pada masa itu, seusai Perang Dunia II, banyak kota luluh-lantak dan butuh waktu cepat untuk membangun kembali gedung-gedung. Memanfaatkan material yang bisa diproduksi massal dan dengan anggaran yang minim, para arsitek membangun kembali kota dengan menekankan aspek fungsional seraya mengorbankan estetika. Mereka membuang detail-detail yang tidak jelas fungsinya, baik pada pintu, jendela, tiang, maupun elemen lain. Mereka juga memangkas ornamen seperti ukiran dan pahatan menjadi benar-benar simpel.
Di Indonesia, gaya ini mulai marak pada 1990-an ketika banyak profesional muda pulang dari sekolah di luar negeri. Tapi, menurut arsitek Yori Antar, pengertian minimalis di Indonesia sendiri sudah bergeser dan cenderung salah kaprah. Di sini, minimalis cenderung sekadar menjadi fashion atau tren gaya hidup. Lebih jauh Yori melhat perhatian terhadap aspek lingkungan jauh lebih penting ketika bumi semakin memanas, atau yang biasa dikenal dengan istilah global warming.
Kesadaran akan pentingnya aspek lingkungan terhadap kehidupan manusia juga pahami oleh sejumlah pengembang. Mereka berupaya dalam setiap langkah pembangunannya, selalu memperhatikan lingkungan. Pengembang melihat tekanan alam terhadap wilayah perkotaan khususnya, begitu besar. Karena itu, kota mandiri seperti BSD City dalam mengembangkan kawasan hunian mengangkat tema lingkungan yang harmonis. [miwibowo]
[Liputan selengkapnya, saksikan program “Realestat” Sabtu, 05 Januari 2008 pukul 09.30 WIB bersama Maudy Koesnaedi, hanya di Metro TV]
Tags: BSD City, Dhony Rahajoe, Jopy Rusli, Lippo Group, Real Estate, Tren Hunian 2008, Yori Antar